Di tengah dunia seni yang makin sibuk mengejar visual mulus, ruang imersif, dan instalasi yang mudah viral, Florentina Holzinger Biennale datang seperti benturan keras yang tidak minta izin. Ia tidak membawa seni sebagai objek cantik yang cukup dilihat dari jarak aman, melainkan sebagai pengalaman tubuh yang menekan, mengganggu, sekaligus memaksa penonton bertanya ulang tentang batas…
Nama Ana Mendieta kembali muncul di tengah percakapan seni modern, bukan sebagai nostalgia kosong, melainkan sebagai bukti bahwa seni tubuh Ana Mendieta masih punya daya ledak visual yang sulit ditandingi. Di era ketika gambar bergerak cepat dari layar galeri ke linimasa, karya Mendieta terasa seperti arsip hidup yang mendadak menemukan bahasa baru untuk generasi sekarang.…
